Belakangan hidup saya satu tema, kamu. - @yuuiiw
Halo, kamu.
Yang akhir-akhir ini jadi inspirasi setiap bait puisi, cerita pendek, bahkan sekedar postingan twitter saya.
Saya suka waktu kamu betah lama-lama denger celoteh saya yang kadang random. Yang pada akhirnya kamu bilang saya aneh. Yes, I am, Sir. Saya mau kamu tahu, masih banyak yang mau saya ceritakan.
Saya masih mau kamu tahu, kalau setiap pagi saya lewat jalan setiabudi, melewati beberapa bayang pohon yang di sorot matahari, seperti sambaran blitz kamera, yang seketika itu membuat saya merasa menjadi artis. Setidaknya, saya adalah pemeran utama dalam cerita hidup saya kan?
Saya masih mau kamu tahu, kalau setiap sore hujan datang saat perjalanan pulang dari kampus, saya selalu mendengar mereka seakan berbisik, sesekali kami berbicara tentang kamu. Mereka datang, dingin, namun mampu menghangatkan, seperti kamu.
Saya masih mau kamu tahu, kalau setiap cerita buku yang saya baca, saya selalu membayangkan itu tentang kita. Jangan aneh kalau saya tiba-tiba mengirim pesan pendek memohon kamu jangan pergi, atau marah dan khawatir berlebihan. Mungkin cerita yang baru saya baca berakhir dengan sad ending. Begitu juga dengan film. Jadi, jangan aneh.
Saya masih mau kamu tahu, kalau saya benar-benar berharap waktu berhenti saat saya bersama kamu. Benar-benar berharap.
Saya masih mau kamu tahu, kalau saya suka mata kamu, saya suka waktu kamu tertawa sampai muka kamu merah, saya suka wangi shampoo kamu, saya suka waktu kamu pura-pura tidur, saya suka waktu kamu berusaha menjauh karena kamu tahu saya tidak pernah suka asap rokok, saya suka waktu kamu memperlakukan saya seperti anak kecil. Saya suka saat saya bisa menjadi diri saya sendiri di depan kamu.
Saya suka. Kamu.
Selamanya pengagummu.
Just My Type at Wonderland
Sabtu, 26 Mei 2012
Senin, 21 Mei 2012
Kata, Makna, Bahasa, Cinta.
"Saat kata tak lagi mampu mengungkap makna. Saat bahasa dirasa tak cukup mengungkap cinta." - Yuliani
Saat itu pukul setengah satu dini hari, aku mengirimkan pesan pendek melalui telepon genggam untuk mama dan papa yang sebenarnya jarak kamar kami tak lebih dari 5 meter. Hanya pesan pendek. Tak banyak yang kuungkap pada pesan itu, walau beribu kata berjejal sesak di otak. Walau rangkai kalimat telah menggantung di ujung lidah. Kelu. Saat pagi datang, mereka menatapku heran. Entah karena isi pesanku yang tiba-tiba atau karena aku yang tak tahu waktu mengirimkan pesan pendek selarut itu. Tak banyak pembahasan soal pesanku.
Yang aku tahu, pujangga sehebat apapun tak akan pernah mampu merangkai kata demi mengungkap rasa cinta mereka padaku.
"Teteh sayang mama, papa :)"
Anakmu, yang takut kehilangan waktu memberitahumu akan hal itu.
Saat itu pukul setengah satu dini hari, aku mengirimkan pesan pendek melalui telepon genggam untuk mama dan papa yang sebenarnya jarak kamar kami tak lebih dari 5 meter. Hanya pesan pendek. Tak banyak yang kuungkap pada pesan itu, walau beribu kata berjejal sesak di otak. Walau rangkai kalimat telah menggantung di ujung lidah. Kelu. Saat pagi datang, mereka menatapku heran. Entah karena isi pesanku yang tiba-tiba atau karena aku yang tak tahu waktu mengirimkan pesan pendek selarut itu. Tak banyak pembahasan soal pesanku.
Yang aku tahu, pujangga sehebat apapun tak akan pernah mampu merangkai kata demi mengungkap rasa cinta mereka padaku.
"Teteh sayang mama, papa :)"
Anakmu, yang takut kehilangan waktu memberitahumu akan hal itu.
Kamis, 17 Mei 2012
Laki-laki seperti senja
Pantulan hangat dan semburat jingga di muka laut milik siapa?
Seseorang di bibir pantai, mengatupkan kelompaknya,
Terduduk menghitung mundur kedatangan malam dengan tak sabar.
Sedang sang senja di ufuk barat masuk ke peraduan dengan malas-malasan,
Meninggalkan langit yang mulai membiru kedinginan.
Tubuhnya menikmati senja, namun pikirannya melayang jauh kesana, ketempatmu berada.
17 Februari 2012
Sentosa Island Beach, Singapore.
I love you, as always :)
Senin, 07 Mei 2012
Menikahi seorang Anomali
Bagaimana rasanya menikahi seorang aneh?
Seorang dengan langkah panjang, suka sendirian, imajinasi berlebihan, kadang menjadi seseorang yang berbeda dalam satu waktu. Mudah tersinggung, tapi sulit menyembunyikan perasaan.
Seorang dengan pemikiran yang aneh, kadang tegas, kadang cengeng, kadang manja, kadang egois.
Seorang yang suka memandangi hujan, bintang, lampu, embun, pelangi dan matamu lama-lama.
Seorang yang mencoba membaca jalan pikiranmu, walau tak jarang ia gagal.
Bagaimana rasanya menikahi seorang aku?
Seorang dengan langkah panjang, suka sendirian, imajinasi berlebihan, kadang menjadi seseorang yang berbeda dalam satu waktu. Mudah tersinggung, tapi sulit menyembunyikan perasaan.
Seorang dengan pemikiran yang aneh, kadang tegas, kadang cengeng, kadang manja, kadang egois.
Seorang yang suka memandangi hujan, bintang, lampu, embun, pelangi dan matamu lama-lama.
Seorang yang mencoba membaca jalan pikiranmu, walau tak jarang ia gagal.
Bagaimana rasanya menikahi seorang aku?
Kamis, 26 April 2012
Aku percaya kata matamu
"Kesalahan besar saat aku memutuskan untuk menatap matamu, lalu membiarkan diri tenggelam dalam teduhnya." - yuuiiw
"Aku sayang kamu." bisik matamu pada hatiku.
"Kamu serius?" "Serius". Otak yang egois masih berteriak minta bukti. Mataku menyelidik, mengintrogasi matamu, menelusup pada balik kata-kata, lalu menemukan jujur disana.
"Aku juga sayang kamu." Hatiku memekik, setengah bahagia, sisanya lega.
Aku beralih menatap jendela dengan pemandangan malam dan sederet rumah yang tenang. Rasanya ingin melompat dari bis, mengetuk pintu rumah satu per satu, membiarkan mereka terjaga lalu meneriakkan betapa bahagianya aku malam itu.
Menaruh hati pada tempat yang baik. Tolong jaga baik-baik.
Mereka tidak rapuh, tapi tidak juga sekuat kelihatannya.
25 April 2012, 22:30.
Yogya - Bandung.
"Aku sayang kamu." bisik matamu pada hatiku.
"Kamu serius?" "Serius". Otak yang egois masih berteriak minta bukti. Mataku menyelidik, mengintrogasi matamu, menelusup pada balik kata-kata, lalu menemukan jujur disana.
"Aku juga sayang kamu." Hatiku memekik, setengah bahagia, sisanya lega.
Aku beralih menatap jendela dengan pemandangan malam dan sederet rumah yang tenang. Rasanya ingin melompat dari bis, mengetuk pintu rumah satu per satu, membiarkan mereka terjaga lalu meneriakkan betapa bahagianya aku malam itu.
Menaruh hati pada tempat yang baik. Tolong jaga baik-baik.
Mereka tidak rapuh, tapi tidak juga sekuat kelihatannya.
25 April 2012, 22:30.
Yogya - Bandung.
Langganan:
Entri (Atom)

